ZMedia Purwodadi

Pabrik Pendeta

Table of Contents
KUPANG: PABRIK RATUSAN GEREJA, GUDANG KEMISKINAN

By Dalur Maksimus 

DARI KOTA KASIH JADI KOTA KARTEL RUKO

Dulu orang sebut Kupang "Kota Kasih". Sekarang lebih cocok disebut "Kota Kartel Sinode".

Kenapa? Karena yang paling subur tumbuh di Kupang bukan jagung, bukan lontar, tapi papan nama gereja baru.

Jalan El Tari - Oebobo - Oesapa - Liliba, tiap 100 meter ada ruko gereja. Nama mirip-mirip, "Gereja Kristen Ebenhaezer Mandiri", "Gereja Injili Sejahtera Asli", "Gereja Bethel Timor Berkat, "Gereja Pniel". Di dalam bukan jemaat, tapi keluarga besar yang lagi arisan perpuluhan.

Inilah pabrik 200 gereja itu. Pabriknya di Kupang.

1. PABRIK GELAR PENDETA INSTAN.

Di Kupang ada beberapa STT (Sekolah Tinggi Teologi) tanpa akreditasi jelas. Kuliah 1 tahun, wisuda, langsung dapat gelar Pdt. Bayar 5-10 juta, dapat ijazah dan jubah.

Lulusan membludak, jemaat di Kupang sudah habis dibagi-bagi. Mau jadi pendeta di mana? Tidak ada kursi. Di Kupang perpuluhan 30 KK x Rp 50 ribu = 1,5 juta sebulan, tidak cukup untuk sewa kos.

Maka satu-satunya jalan: HIJRAH. Bawa ijazah Pdt dari Kupang, bawa proposal sinode, terbang ke Batam, Jakarta, Morowali, Malaysia, Sorong.

Di Kupang dia penganggur bergelar. Di Batam dia ketua sinode. Dari penganggur jadi pengusaha rohani, hanya butuh tiket Lion Air 1,2 juta.

Itu bukan panggilan Tuhan, itu panggilan dompet.

2. HIJRAH UNTUK CARI UANG PRIBADI, BUKAN CARI JIWA HILANG.

Jangan munafik. Tanya jujur pada pendeta Kupang yang hijrah: kalau di Batam tidak ada UMR 4,5 juta, apakah kau tetap berangkat? Tidak.

Mereka hijrah karena hitungannya jelas: di Kupang 1,5 juta, di Batam 100 orang x Rp 450 ribu = 45 juta per bulan. Tanpa audit, tanpa pajak, atas nama Tuhan.

Mereka tidak pergi cari orang Melayu yang belum Kristen, karena orang Melayu tidak kenal marga, tidak loyal, tidak bisa ditagih adat. Mereka cari orang Timor, Sabu, Rote yang sudah Kristen sejak lahir yang sedang rindu rumah di perantauan. Yang mudah ditakut-takuti: "Kalau tidak gabung gereja suku, tidak diberkati, adat putus."

Maka uang TKI yang kerja 12 jam di galangan, di Industri yang seharusnya untuk sekolah adik di kampung, habis untuk perpuluhan ruko.

3. SINODE ADALAH KARTU ATM KELUARGA.

Di Kupang daftar sinode ke Kemenkumham sama mudahnya dengan daftar UMKM. Dapat SK, langsung bisa buka rekening yayasan, bisa terima sumbangan dari luar negeri, bisa ajukan bansos.

Satu keluarga bisa punya 3 sinode: Bapak ketua Sinode A, anak ketua Sinode B, istri bendahara Sinode C. Kalau bertengkar di rumah, pecah lagi jadi Sinode D. Jemaat hanya angka untuk proposal bantuan.

Inilah kenapa jadi 200. Bukan visi, tapi rekening.

4. BUAH GEREJA KATOLIK - YANG TINGGALKAN LISTRIK, BUKAN RUKO.

Inilah bukti paling pahit yang bikin geram:

Di Manggarai: Pater Waser datang 8 Februari 1977 ke hutan buta huruf. Tidak ada listrik, tidak ada air. Dia tidak bangun ruko. Dia bangun SMP St. Klaus Kuwu 1983 dan SMA St. Klaus 1989 - sekolah termutu se-NTT. Dia bangun air minum bersih, jalan, jembatan. Orang Manggarai sebut dia "Pastor Air Minum dan Pastor Sak Semen". Buahnya? Manggarai jadi kabupaten paling pintar di Flores, jadi lumbung guru dan dokter. Buahnya listrik nyala, sekolah nyala, otak nyala.

Di Sabu Raijua: Pater-pater Katolik tidak bangun sinode baru. Mereka bor tanah, bikin 20 sumur bor, bangun embung, pasang panel surya. Di Sabu yang kering kerontang, air keluar karena pater, bukan karena pendeta. Pendeta Sabu di Batam khotbah "Tuhan akan berkati air", pater di Sabu langsung bor air. Mana yang Tuhan?

Di Rote: Katolik minoritas kecil. Tapi suster-suster Katolik bangun asrama putri, sekolah kejuruan, koperasi tenun ikat. Anak Rote tidak diajari bayar perpuluhan biar diberkati, tapi diajari tenun biar bisa jual. Buahnya ekonomi hidup, bukan ruko sepi.

Tiga tempat, satu pola Katolik: Masuk hutan gelap, hutan jadi terang. Masuk tanah kering, air keluar. Masuk kampung miskin, sekolah mutu berdiri.

Pola 200 sinode? Masuk kampung miskin, tinggalkan kampung miskin. Masuk kota terang yang sudah ada listrik, bikin ruko baru dan tagih perpuluhan.

PENUTUP

Jadi untuk semua pemilik pabrik sinode di Kota Kupang yang marah baca ini, jawab dengan pahit:

Kalian bangga Kupang disebut Kota Kasih, tapi kasih apa yang kalian tinggalkan di Sabu yang tetap haus, di Rote yang tetap miskin, di pedalaman TTS yang tetap gelap? Tidak ada. Yang ada hanya papan nama sinode baru tiap tahun.

Pater Waser mati 2023 dikenang karena tinggalkan sekolah termutu dan air mengalir. Pater di Sabu dikenang karena sumur bor. Suster di Rote dikenang karena tenun ikat laku.

Kalian kalau mati besok, apa yang dikenang? Ruko kontrakan nomor berapa yang kalian tinggalkan dan berapa KK yang kalian bawa pecah?

Kupang tidak butuh 200 sinode. Kupang butuh 200 sumur bor, 200 sekolah mutu seperti St. Klaus Kuwu, 200 koperasi.

Tapi sumur bor tidak bisa tarik perpuluhan 10%. Sekolah mutu gratis tidak bisa beli Avanza. Koperasi tidak bisa daftar jadi sinode baru di Kemenkumham.

Maka kalian pilih sinode. Karena yang kalian cari bukan jiwa, bukan Yesus. Yang kalian cari uang pribadi dan kartu ATM atas nama sinode.

200 Sinode lahir di Kupang, dibesarkan di Batam, matinya tetap miskin di kampung.

Itu bukan gereja. Itu kartel kemiskinan berbungkus ayat.
 
#SemuaOrang #Publik @sorotan  #SolaScriptura #SinodeKartuATMKeluarga #PabrikGelarPendetaInstan

Post a Comment