Kenapa Indonesia Masih Miskin? Tan Malaka Sudah Tahu
Tahun 1942, saat Jepang menduduki Indonesia, Tan Malaka menyamar jadi penjahit di Batavia. Selama 8 bulan, dia menulis sebuah buku yang bakal mengguncang cara berpikir bangsanya.
Dia melihat 55 juta orang Indonesia yang terus dijajah bukan hanya oleh Belanda, tapi oleh sesuatu yang lebih berbahaya. Logika Mistika. Cara berpikir yang percaya segala masalah bisa diselesaikan dengan sesajen, mantra, dan doa ke kekuatan gaib. Ketimbang bertindak sendiri, masyarakat lebih memilih pasrah menunggu Ratu Adil yang akan datang menyelamatkan mereka. Tan Malaka marah. Bagaimana Indonesia bisa merdeka kalau rakyatnya masih memperbudak diri sendiri dengan kepercayaan yang melumpuhkan akal?
Bayangkan kamu lapar. Perutmu keroncongan. Lalu seseorang datang dan bilang, cukup berdoa saja, nanti kenyang sendiri. Atau seseorang mengatakan padamu untuk ziarah ke makam nenek moyang, beli jimat, minta bantuan dukun agar masalahmu selesai. Inilah yang Tan Malaka sebut Logika Mistika. Bukan hanya soal percaya hal gaib, tapi tentang cara berpikir yang membuat kita berhenti berjuang.
Tahun 2026 ini, praktik perdukunan masih laris manis. Peserta ujian CPNS masih bawa jimat. Acara besar masih pakai pawang hujan. Bahkan sampai ada rumah dukun santet yang digerebek warga di Tangerang Selatan karena ditemukan foto-foto orang yang ditusuk-tusuk. Film Pembantaian Dukun Santet yang viral Mei 2025 kembali mengingatkan kita pada tragedi Banyuwangi 1998 ketika ratusan orang dibunuh hanya karena dituduh jadi dukun. Ini bukan masa lalu. Ini masih terjadi hari ini.
Tan Malaka menulis Madilog bukan untuk menghina kepercayaan rakyatnya. Dia menulis karena cinta. Dia ingin rakyat Indonesia bebas, bukan hanya dari penjajahan fisik, tapi dari penjajahan pikiran. Madilog adalah singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Tiga tahap menuju kemajuan.
Pertama, tinggalkan logika mistika yang melumpuhkan.
Kedua, belajar filsafat agar kita bisa mencari tahu sebab-akibat suatu masalah.
Ketiga, gunakan ilmu pengetahuan dan sains untuk menyelesaikan masalah secara nyata dan terukur. Lapar tidak bisa disembuhkan dengan kata kenyang yang diulang 1001 kali. Kemiskinan tidak hilang dengan jimat. Kemerdekaan tidak datang dengan menunggu Ratu Adil. Perubahan dimulai saat kita berani berpikir, berani bertanya, berani mencari jawaban sendiri.
Tan Malaka tahu bahwa bangsa yang malas berpikir adalah bangsa yang mudah diperbudak. Logika mistika membuat kita pasif. Membuat kita menerima nasib tanpa melawan. Membuat kita percaya pada solusi instan tanpa kerja keras. Sampai hari ini, kita masih melihat jejaknya.
Orang lebih percaya ramalan zodiak dibanding data. Lebih percaya dukun daripada dokter. Lebih percaya jimat daripada skill. Madilog mengajarkan satu hal penting. Kita tidak butuh keajaiban. Kita butuh akal sehat, kerja keras, dan ilmu pengetahuan. Kemajuan bukan datang dari langit. Kemajuan datang dari tangan kita sendiri yang berani mengubah realitas.
Jika kamu merasa tersinggung, justru buku Madilog ini perlu kamu baca. Jika kamu merasa setuju, kamu wajib membaca buku ini sampai habis. Madilog bukan sekadar kritik. Ini blueprint kemerdekaan sejati. Kemerdekaan berpikir. Lebih dari 80 tahun berlalu sejak Tan Malaka menulis buku ini, tapi pesannya masih menusuk. Masih relevan. Masih berbahaya bagi mereka yang ingin rakyat tetap bodoh dan mudah dikontrol.
Dapatkan buku Madilog sekarang. Baca. Pahami. Lalu putuskan sendiri. Apakah kamu mau terus terjebak dalam logika mistika, atau berani merdeka dengan berpikir kritis? Indonesia butuh generasi yang berani berpikir, bukan generasi yang cuma bisa pasrah.
Post a Comment for "Kenapa Indonesia Masih Miskin? Tan Malaka Sudah Tahu"